Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sastra

Short Story - Loveless Pretension

Loveless Pretension Illustration by Elisabeth Cintami Amy berjalan gontai menyusuri pusat kota Tokyo di malam Natal yang dingin. Pikirannya sedang berada pada tingkatan yang memuakkan, kacau namun bisa dikatakan kosong. Sudah tiga tahun ia tidak kembali ke negaranya. Di tempat yang dulu biasa disebutnya sebagai rumah, sudah tidak ada siapa pun lagi. Ah, pikirannya mulai kabur. Ia mabuk berat. Kepalanya sakit. Ia kesepian. Salah memang karena ia memutuskan untuk melewati pusat kota di malam Natal seperti ini. Yang ia jumpai hanyalah pasangan-pasangan yang sedang dimabuk asmara. Ia hanya sendirian dan penuh amarah. Amarah yang diam-diam singgah di hatinya.

Short Story - Mara dan Keabadian(nya) (Sebuah Sajak di Dalam Lemari Kaca)

Mara dan Keabadian(nya) (Sebuah Sajak di Dalam Lemari Kaca)  Illustration by Elisabeth Cintami Malam itu Mara sedang bermurung durja. Malam itu ia mengucapkan salam perpisahan kepada siapa pun yang ditemuinya. Malam itu adalah malam paling sedih selama hidupnya. Malam itu ia mengurung diri di dalam sebuah lemari kaca. Sebenarnya, apanya yang perpisahan? Malam itu Mara dikutuk. Ia dikutuk menjadi abadi. Malam itu usianya genap 20 tahun. Malam itu ia membayangkan hidup tanpa mati. Malam itu... Malam itu ia meninggalkan tubuhnya di dalam lemari. Smg, 31 Des 2017: Elisabeth Cintami.

Short Story - Kata

Photo by Elisabeth Cintami KATA Di sebuah balkon kampus, sore hari...                 “A. A. Apa. Apa?” Kali ini Karin pusing sekali. Hanya untuk membaca kata “apa” saja seperti sedang membaca rumus matematika. Namun rasa pusing itu tidak sebanding dengan rasa hancur di hatinya setelah dokter mengatakan bahwa dirinya menderita disleksia setelah mengalami benturan keras di kepalanya karena dipukuli oleh beberapa senior di kampusnya.                 Sekarang Karin tidak bisa membaca seperti dulu lagi. Prestasinya yang gemilang dulu seperti sia-sia belaka. Ia sudah tidak lagi sanggup menerima keadaannya yang sekarang.

Short Story - Dalam Gaun Hitam

Dalam Gaun Hitam Black Dress sudah difilmkan :) Gaun merupakan pakaian terusan wanita, dan hitam adalah warna paling gelap dalam alam semesta ini. Dalam mendung, gelap tidak pernah menghilang. Dalam kabut, gelap senantiasa meradang. Adalah suatu perasaan duka dalam malam yang gelap pekat menyelimuti batin manusia yang terbiasa tinggal dalam terang. Adalah penglihatan yang kabur, dalam gelap. Bagitulah kira-kira sebuah gaun hitam sanggup melekat di tubuh seorang gadis manis yang sangat memuja kebahagiaan. 

Short Story - Stop It Jack!

Stop It Jack! Illustration by Elisabeth Cintami Suddenly, I remember her like I always did before today. Her sweet smile, and her bright eyes have defeated me to end my life. It was so weird, but it was real. I might be a loser or anyword you used to mock me. I was a boy with nothing to be proud of. I thought that my life was worthless, and I just wanted to die until something that was so mysterious came. "Stop it, Jack!" Those words started to haunt me. I always heard it when I was going to kill myself. I heard it when I was going to cut my wrist, when I was going to hang myself into a rope, and the last, when I was standing on the top of a building. Those words just flew away, and I heard a voice. It was so real behind me. A girl's voice. It wanted me to stop myself. But, no! I wanted to die! I didn't want to hear it anymore. This place just wanted to throw me away. I was going to jump. "Stop it, Jack!" ...

Monolog - Anu

ANU Anu, aku anu-anu. Aku anu-anu anu, anu aku. Iku aku anu-anu. Anu-anu iku anu-anu aku. Aku iku anu, anu-anu iku aku. Semarang, 14 April 2015 ELISABETH DYAH AYU CINTAMI WISNUGROHO

Monolog - Sayu

Sayu Illustration by Elisabeth Cintami (Instagram @elelisalisa) "Cinta, nista, derita" Tiga kata itu aku pegang dalam sayu. Hatiku yang kini terasa sendu berjalan menembus barisan partikel rindu. Memangnya siapa yang ada dalam rinduku? Seekor kutu? Seonggok kayu? Sebutir batu? Aku tetap berjalan dalam sayu. Ruangan kosong itu berantakan meskipun tanpa benda. Sssttt! Diamlah! Aku sedang merayu kamu yang berlari mengenakan kacamata kudamu. Kamu memang gila. Kamu berlari tanpa busana, dan aku melihatmu, meskipun sayu. Kacamata kuda, telanjang. Apa lagi? Apalah semua itu kalau mataku sayu. Jika kamu mau tahu, aku sudah mengalahkan segala musuh jahatmu sehingga hanya kamu yang berlari, dan aku yakin kamu tidaklah kesepian karena ada aku. Kini kamu menghampiriku dengan menggenggam sebilah pisau di tangan kananmu, dan sebatang obor di tangan kirimu. Aku pun menyerahkan diriku untuk maju mendekatimu tanpa aku tahu kalau kamu hanya ingin membinasakanku. Mataku sayu. ...