Aku berjalan di tengah
keheningan malam. Aku meratapi hidupku yang sepi dan penuh kesedihan. Hari ini
memanglah sungguh menyebalkan bagiku. Entah mengapa banyak temanku yang pergi
menjauh dariku. Dan kekasihku telah memutuskan hunungan kami.
Aku tak habis pikir pada
kenyataan yang menimpaku. Aku sungguh-sungguh merasa bosan dengan hidupku. Aku
pikir hidupku harus berakhir hari ini juga.
Berjalan
terus, aku berjalan terus. Aku berjalan tanpa tujuan pasti. Kakiku melangkah
dan melangkah arah pun bukan masalahnya. Dingin malam juga bukan masalah. Dan
kini aku sampai diatas gedung bertingkat sepuluh.
Di atap
gedung ini aku ingin mengakhiri hidupku. Aku ingin terjun bebas kebawah.
Melayang dan lepaskan semua beban hingga nafasku berakhir. Hatiku sudah hancur.
Tak ada yang mempedulikanku, aku memang pantas untuk mati.
Ketika
aku akan mulai turun, seseorang meneriakiku,
“Hey kamu!” katanya,
Aku langsung mencari arah datangnya suara itu. Aku tidak mau
ada saksi mata dalam kematianku nanti.
“Siapa kamu?” teriakku kembali sambil mencari orang yang
memanggilku,
“Aku tepat di belakangmu!” jawabnya,
Ketika aku menghadap belakang, aku temui seorang pria tinggi
kurus berkacamata dan berambut ikal.
“Kamu siapa?” tanyaku,
“Maaf mengganggumu. Aku hanya ingin melihat sebuah atraksi
dari sini. Teruskan atraksimu!” jawabnya,
“Atraksi? Maksudmu?” aku bingung dengan maksud pria itu,
“Sudahlah. Teruskan saja terjunnya!” jawabnya,
“Tapi kamu harus pergi dari sini!” perintahku,
“Maaf, dilarang mengusir penonton.”
“Apa sih maumu?”
“Yah, sekarang apa maumu?”
“Kok malah tanya balik?”
“Kenapa kamu ingin loncat dari sini?”
“Bukan urusan kamu!”
“Galak amat sih.”
“Terserah dong!”
“Oke, aku biarkan kamu turun dan membuang segala kesempatan
di dalam hidupmu.”
“Apa maksudmu?”
“Sebenarnya masih banyak kesempatan untuk memperbaiki semua
masalahmu, tapi kalau kamu masih mau turun, ya silahkan. Abaikan semua
kesempatan itu!”
“Cerewet!”
“Apa harus aku bercerita padamu?”
“Cerita apa lagi? Emang benar-benar cerewet ya kamu.”
“Ya sudah. Jangan dengarkan ceritaku!”
Entah
mengapa aku sangat penasaran dengan cerita pria itu dan memutuskan untuk
mendengarkannya.
“Okey, aku mau dengarkan ceritamu. Tapi sebelumnya, siapa
namamu?” Tanyaku,
“Panggil saja aku Hans. Kamu?”
“Aku Dini.”
“Baiklah, aku mulai ceritaku....
Ada
seorang anak orang kaya yang hidup dalam kemewahan. Semua yang dia inginkan
selalu terpenuhi dan ia tidak pernah merasa kekurangan. Namun pada suatu saat,
ibunya harus pergi meninggalkannya karena diam-diam telah menikah lagi dengan
pria lain. Anak itu menjadi sangat membenci ibunya.
Suatu
ketika, ayahnya juga menikah lagi dengan
wanita lain sehingga ia merasa hidup sendiri. Sebagai seorang laki-laki,
ia mungkin tidak terlalu sensitif. Namun karena tidak ada satupun keluarga yang
peduli dengannya, ia jatuh dalam pergaulan yang salah dan ia mulai mencicipi
indahnya dunia malam.
Setiap
malam, ia selalu pergi ke tempat hiburan dan menggodai wanita-wanita cantik
serta mabuk-mabukan. Bahkan ia mencoba untuk menggunakan narkoba. Ia juga lupa
kalau dia sudah kelas dua belas SMA dan akan menghadapi ujian kelulusan
sehingga dia mengabaikan sekolahnya.
Hingga
pada hari kelulusan, ia mendapati nilainya yang sangat buruk dan hancur.
Walaupun dia lulus, nilainya itu tidak bisa membuatnya mudah mendapatkan
perguruan tinggi. Padahal sebelumnya dia adalah seseorang yang pintar dengan
segudang prestasi. Ayahnya sangat marah dan benar-benar geram dengan kenyataan
ini. Keluarganya benar-benar malu padanya.
Bahkan
penderitaannya tidak hanya sampai disitu, ia juga mendapati kenyataan bahwa
kekasihnya yang paling dia cintai memutuskan untuk meninggalkannya dan menjadi
kekasih sahabat karib yang paling dia percayai. Dia merasa dihianati hingga
suatu saat seorang teman wanitanya yang lain datang dan mengaku telah dihamili
olehnya. Dia merasa hidupnya penuh dengan maksiat dan kenistaan.
Karena
sangat putus asa, ia memutuskan untuk terjun dari atas gedung berlantai sepuluh
dan mati. Namun yang terjadi adalah, dia tidak mati. Dia hanya lumpuh dan tidak
bisa berbuat apa-apa. Sekujur tubuhnya seperti mati tapi ia hidup.
Dalam
kelumpuhannya ia hanya bisa mendengar apa yang dikatakan ayahnya yang ternyata masih
menyayanginya apapun yang terjadi, bahkan semua orang yang telah menghianatinya
datang dan mereka meminta maaf padanya serta seorang wanita yang mengaku hamil
itu ternyata tidak hamil. Dan ternyata banyak sekali orang yang begitu
menyayanginya. Yang sangat pareh adalah kenyataan bahwa sebenarnya ibunya itu
telah mendaftarkannya disebuah Universitas terbaik di Amerika dengan menempuh
segala perjuangan.
Dia
menyesali pilihannya untuk mati dan ia ingin hidup. Namun terlambat, pada hari
ketiga setelah ia terjun itu ajal menjemputnya. Ia hanya pasrah mendapati hal
itu. Bahkan dia menyesal karena ternyata banyak sekali orang yang
menyayanginya.
Jadi seperti itu.” Cerita Hans berakhir.
“Terus, apakah pria itu punya ciri?” tanyaku,
“Ehm, dia selalu memakai gelang kain berwarna hitam dan
bertuliskan namanya. Dia menganggap itu adalah lambang kehidupannya.”
“Sedih sekali hidupnya.”
“Sepertinya kamu masih beruntung dengan hidupmu, Dini.”
“Ah, benar Hans. Ceritamu membuat aku tidak ingin terjun.”
Aku pun tersenyum pada Hans dan ia membalas senyumanku. Aku melihat senyumannya
itu dan merasa jatuh cinta padanya. Sepertinya dia pria yang baik. Aku harap
bisa dekat dengannya.
“Ehm, sekarang lihat bintang-bintang itu dan berdoalah
supaya hidupmu menjadi lebih baik setelah ini.” Kata Hans.
“Baiklah.” Lalu aku memejamkan mataku dan berdoa. Aku ingin
hidupku menjadi lebih baik.
Setelah
berdoa, aku membuka mata dan kudapati bahwa Hans tidak ada. Aku mencarinya
sambil berteriak,
“Hans! Hans!” seruku, namun tidak ada seorangpun yang
menjawabku.
Aku mencari Hans disekelilingku, namun dia tidak ada. Aku
benar-benar bingung dan merasa kehilangan karena aku benar-benar mencintainya.
Hingga tiba-tiba datanglah seorang satpam,
“Hey! Ngapain kamu disini?” tanya satpam itu,
“Saya mencari teman saya.” Jawabku,
“Tidak ada siapapun disini.”
“Tidak mungkin pak. Jangan-jangan dia sudah turun?”
“Tidak ada seorangpun dibawah. Siapa temanmu?”
“Ehm, namanya Hans pak.”
“Ha...Hans? Apakah nama lengkapnya Yohanes? Yohanes siapa
ya?” gumam satpam itu,
“Saya tidak tahu pak.” Lalu ketika aku melihat ke bawahku,
aku menemukan sebuah gelang hitam dengan tulisan Yohanes Hansel dan aku ingat
dengan cerita Hans tadi.
“Ini gelangnya siapa?” tanya satpam itu setelah melihatku
memperhatikan gelang itu.
“Saya juga bingung pak.” Dalam hatiku, aku sangat ketakutan
karena aku tahu gelang ini psti milik pria yang diceritakan Hans tadi,
“Coba saya lihat!” lalu satpam itu memperhatikan gelang
hitam yang aku pegang. “Ya ampun mbak! Iya ini namanya, Yohanes Hansel. Apa
di-dia tinggi, kurus dan berkacamata?” Tanya satpam itu bagaikan
mengintrogasiku,
“I-iya pak. Kok bapak tahu? Bapak kenal?”
“I-ini pria yang loncat dari sini sebulan yang lalu.”
“Apa pak? Jangan bercanda pak! Tadi saya habis bicara sama
dia.”
“Wah, mbak. Mbak sudah ngomong sama hantu tuh. Makanya
jangan main ke atas sini malem-malem mbak!” kata satpam itu.
Lalu
aku bergegas pulang. Perasaanku benar-benar campur aduk antara sedih, bingung,
ngeri dan masih ada keinginanku untuk bersama Hans. Aku tidak menyangka
sebelumnya bahwa dia akan menceritakan dirinya sendiri. Sangat disayangkan
kalau ternyata dia sudah meninggal. Padahal aku sudah menyimpan rasa cinta. Ah,
biarlah dia pergi. Karena cintaku tertinggal di hatinya.
Requested by :
*Tittle by : Mutiara Pratiwi
*Story by : Tyas
Comments
Post a Comment
Feel free to give me your opinion :D